Alergi Vetsin, Apa yang Harus Dilakukan?

Pada sebagian orang, vetsin dapat memicu serangkaian gejala alergi seperti mual, berkeringat, lemah, sakit kepala, baal di daerah leher dan lengan, kesemutan pada wajah, leher, bahu dan lengan atas, tekanan darah meningkat, ruam kulit kemerahan atau terbakar, gatal, hidung meler, diare, jantung berdebar, dada sesak, mulut kering, gemetaran, dan nyeri otot. Gejala-gejala yang muncul tergantung respon masing-masing orang dan terjadi sekitar 10-20 menit setelah makan dan menghilang sendiri setelah beberapa saat. Pada penderita asma, alergi vetsin dapat memicu serangan hingga dua belas jam. Anak-anak yang mengkonsumsi terlalu banyak vetsin bisa mengalami demam, gelisah atau kebingungan.
Penyebab alergi vetsin adalah intoleransi sebagian orang terhadap monosodium glutamat, yang merupakan unsur penyusunnya. Sodium glutamat adalah garam dari asam glutamat, salah satu dari 20 asam amino yang terbentuk dalam tubuh manusia. Asam ini terlibat dalam pembangunan protein tubuh dan berperan dalam fungsi otak. Sebagai neurotransmitter, asam glutamat membantu mengirimkan sinyal antar sel-sel saraf seperti transmisi nyeri, pertumbuhan tubuh, regulasi berat badan dan pengendalian nafsu makan.

Pada awal abad ke-20, Kikunae Ikeda dari Universitas Tokyo untuk pertama kalinya mengisolasi sodium glutamat dari ganggang. Berbeda dengan rasa garam lain, sodium glutamat memiliki rasa manis, asam, asin dan pahit yang bercampur menjadi gurih/lezat di lidah.

Hingga saat ini belum diketahui mengapa beberapa orang tertentu memiliki respon alergi terhadap sodium glutamat. Karena mekanismenya tidak diketahui, belum ada obat untuk mengatasinya. Bila Anda alergi terhadap vetsin, Anda tidak memiliki pilihan lain selain mengurangi atau menghindari makanan yang mengandung vetsin. Batas toleransi glutamat setiap orang berbeda-beda, sehingga tidak ada pedoman berapa kuantitas yang disarankan. Setiap orang harus menemukan sendiri berapa kadar yang tidak berbahaya bagi tubuhnya.

MSG AMAN DIPAKAI, ASAL…

Monosodium glutamate (MSG) atau sering dikenal di masyarakat sebagai vetsin sampai sekarang masih saja dipertanyakan orang tentang keamananya untuk kesehatan. Sebagian orang meski ragu-ragu, memilih tidak menggunakannya daripada terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagian lagi mencoba mengurangi pemakaiannya. Apa sebetulnya MSG itu dan sejauh mana keamanannya bagi tubuh manusia?

Wah, saya kalau disuruh masak tanpa vetsin, nyerah, deh,” kata sebagian ibu. Memasak tanpa vetsin memang membawa risiko masakan jadi tak sedap. Itu sebabnya meski takut dan ragu-ragu akan efek sampingnya yang konon berbahaya bagi tubuh, orang tetap menggunakannya. “Pokoknya nggak banyak-banyak, deh,” kilah sebagian orang.

Kenapa pula mesti takut, pendapat orang yang lain. Toh nenek moyang kita sudah memakannya sejak ratusan tahun yang lalu. Tak ada keluhan apa-apa, tuh. Betul, vetsin sudah digunakan orang sejak 2.000 tahun yang lalu. Penemunya adalah juru masak Jepang. Tentu saat itu bentuknya bukan bubuk seperti sekarang ini. Mereka mengambil MSG dari sejenis rumput laut yang disebut Laminaria japonica. Adalah orang Jepang juga yang kemudian punya ide menguraikan asam glutamat dari rumput laut tersebut hingga pemakaiannya jadi lebih mudah.

Sejak itu MSG atau vetsin ini sulit ditinggalkan orang. Rasa gurihnya betul-betul menonjol hingga tanpa kehadirannya, rasanya seluruh makanan jadi tak sedap. Di Indonesia sendiri MSG pada umumnya diproduksi dari hasil gula tetes tebu (molase). Gula tetes yang banyak mengandung glutamin itu diproses sedemikian rupa hingga mengeluarkan asam glutamat.

Nah, seberapa jauh asam glutamat ini berbahaya bagi tubuh? Terus-terang masih sulit menjawabnya saat ini meski banyak ahli melalui penelitian menemukan orang-orang yang rajin mengkonsumsi MSG menderita beberapa penyakit. Antara lain, kanker.

  1. Muhilal, pakar gizi kita pernah menulis dalamBuletin Gizi beberapa tahun yang lalu tentang akibat penggunaan MSG. Dalam tulisan itu dikatakan MSG dapat mengakibatkan antara lain:

Chinese Restaurant Syndrome

Tahun 1968 dr. Ho Man Kwok menemukan penyakit pada pasiennya yang gejalanya cukup unik. Leher dan dada panas, sesak napas, disertai pusing-pusing. Pasien itu mengalami kondisi ini sehabis menyantap masakan cina di restoran. Masakan cina memang dituding paling banyak menggunakan MSG. Karena itulah gejala serupa yang dialami seseorang sehabis menyantap banyak MSG disebut Chinese Restaurant Syndrome.

Bagaimana sampai MSG bisa menimbulkan gejala di atas, masih dugaan belaka sampai saat ini. Tetapi diperkirakan penyebabnya adalah terjadinya defisiensi vitamin B6 karena pembentukan alanin dari glutamat mengalami hambatan ketika diserap. Konon menyantap 2 – 12 gram MSG sekali makan sudah bisa menimbulkan gejala ini. Akibatnya memang tidak fatal betul karena dalam 2 jam Cinese Restaurant Syndrome sudah hilang.

Kerusakan Sel Jaringan Otak

Lain lagi hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan penelitian pada tikus putih muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5 – 4 mg per gram berat tubuhnya. Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita kerusakan jaringan otak. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan pemberian MSG yang dicampur dalam makanan tidak menunjukkan gejala kerusakan otak.

Kendati penelitiannya menunjukkan MSG aman asal dicampur dalam hidangan, toh, Olney masih mengingatkan kita agar sesedikit mungkin menyantap MSG atau menghindarinya sama sekali di usia muda.

Kanker

Bisa jadi pendapat MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya dari sudut pandang berikut. Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu lama. Nah, pirolisis ini disebut-sebut sangat karsinogenik.

Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah MSG pun, kata pakar, bisa juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein, seperti triptopan, penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami pirolisis. Nah, dari penelitian tadi jelas cara memasak amat berpengaruh.

Kerusakan Retina

Pada MSG dosis normal memang tidak terlihat adanya akses glutamat yang berlebihan ke retina. Tetapi meski masih dipertanyakan, penelitian menunjukkan MSG yang berlebih dapat merusak retina.

AMANKAH BAGI WANITA HAMIL DAN MENYUSUI?

Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 – 50 kali lebih besar dari kadar normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara intravena. Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat badan, mungkin kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak dalam ASI. Padahal menurut penelitian pernah dilakukan oleh Muhilal bersama rekan-rekannya dari Puslitbang Gizi Bogor dan Direktorat Bina Gizi masyarakat Departemen Kesehatan, pemakaian rata-rata orang Indonesia hanya 0,6 gram per hari. Penelitian ini dilakukan tahun 1988 di tiga provinsi di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan. Jumlah ini masih jauh di bawah konsumsi negara lain, lo. Taiwan,misalnya rata-rata 3 gr/hari, Korea 2,3 gr/hari, dan Jepang 1,6 gr/hari.

Namun penelitian Muhilal tidak sejalan dengan temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Menurut penelitian YLKI, seperti dikutip Majalah Intisari beberapa tahun lalu, satu mangkok mi bakso saja mengandung 1,84 – 1,90 gr MSG. Dalam semangkok mi pangsit atau mi goreng bahkan terdapat 2,90 – 3,40 gr MSG. YLKI juga menemukan penggunaan MSG pada beberapa merk makanan camilan asin-gurih yang biasa dikonsumsi anak-anak (Intisari ’92).

Menurut Muhilal, batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120 mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu.

Belakangan MSG malah digolongkan sebagai GRAS (Generally Recognized As Save) atau secara umum dianggap aman. Hal ini juga didukung oleh US Food and Drugs Administration (FDA), atau badan pengawas makanan dan obat-obatan (semacam Ditjen POM) di Amerika yang menyatakan MSG aman. Tentu dalam batas konsumsi yang wajar.

Sampai saat ini pun belum ditemukan kasus menonjol akibat mengkonsumsi MSG. Bahkan Jepang yang konsumsi MSG-nya cukup tinggi pun sampai saat ini tidak mengalami gangguan.

JANGAN BERLEBIHAN

Kesimpulannya, MSG aman dikonsumsi sejauh tidak berlebihan. Harap diingat juga dalam kecap maupun saus pun terdapat kandungan MSG. Jadi, bila Anda sudah memakai saus atau kecap, pertimbangkan kembali, masih diperlukankah penambahan MSG. Bagaimana gurihnya pun MSG dalam masakan kita, bukankah kalau terlalu berlebihan, tidak enak lagi rasanya?

Meski dinilai aman, MSG hendaknya tidak diberikan bagi orang yang tengah mengalami cidera otak karena stroke, terbentur, terluka, atau penyakit syaraf. Dr. Dennis Choi, seorang asisten guru besar Neurobiologi pada Universitas Stanford mengingatkan, konsumsi MSG menyebabkan penumpukan asam glutamat pada jaringan sel otak yang bisa berakibat kelumpuhan.sdp@Miftakh Faried

Kontroversi Keamanan Monosodium Glutamat (MSG)

Monosodium Glutamat (MSG) ditemukan pertama kali di Jepang tahun 1909 oleh Ajinomoto Corp, monosodium glutamat (MSG) telah berkembang menjadi salah satu zat aditif makanan yang paling populer di seluruh dunia. Selain MSG, ada penyedap rasa lain yang digunakan oleh industri makanan seperti disodium
inosinat (IMP) dan disodium guanilat (GMP). Namun MSG-lah yang paling disukai orang karena kemurahan dan keefektifannya dalam menguatkan rasa.

MSG digunakan di seluruh dunia pada hampir semua jenis sayuran, kaldu dan lauk-pauk. MSG juga hadir dalam berbagai makanan olahan seperti daging kalengan dan daging olahan beku, saus tomat, mayones, kecap, sosis, makanan ringan, beberapa produk olahan keju, bumbu mie instan, dll. Penggunaan MSG kadang-kadang “tersembunyi” di balik label makanan dengan nama yang berbeda. Jika Anda melihat “penyedap rasa alami”, “protein hidrolisat” dan “rempah-rempah” dalam label makanan Anda, bukan berarti di dalamnya tidak ada MSG.

Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM)

MSG adalah bubuk putih yang cepat larut dalam air atau air liur. Setelah larut, MSG terurai menjadi natrium dan glutamat. Glutamat adalah asam amino nonesensial yang ditemukan di hampir semua protein. Di Amerika Serikat, MSG termasuk dalam daftar bahan makanan yang aman menurut Food and Drug Administration. Komite Ilmiah Uni Eropa juga menilai MSG sebagai zat makanan yang aman. Di Jepang, MSG adalah zat aditif makanan yang boleh digunakan tanpa pembatasan. Di Indonesia sendiri, MSG termasuk bahan makanan yang dianggap aman oleh BPOM.

“Micin atau penyedap rasa, atau MSG, aman dikonsumsi masyarakat. Asosiasi pangan dunia juga telah menguji kalau efek negatif yang selama ini digembar-gemborkan ke masyarakat tentang penggunaan micin tidak terbukti,” kata Kepala BPOM Pusat, Husniah Rubiana Thamrin, dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (25/5/2009).

Penelitian Russell Blaylock

Namun, menurut Russell Blaylock, penulis buku Excitotoxins – The Taste That Kills, MSG adalah excitotoxin yaitu zat kimia yang merangsang dan dapat mematikan sel-sel otak. Blaylock menyatakan bahwa MSG dapat memperburuk gangguan saraf degeneratif seperti alzheimer, penyakit Parkinson, autisme serta ADD (attention deficit disorder).

MSG juga meningkatkan risiko dan kecepatan pertumbuhan sel-sel kanker. Ketika konsumsi glutamat ditingkatkan, kanker tumbuh dengan cepat, dan kemudian ketika glutamat diblokir, secara dramatis pertumbuhan kanker melambat. Para peneliti telah melakukan beberapa eksperimen di mana mereka menggunakan pemblokir glutamat yang dikombinasi dengan pengobatan konvensional, seperti kemoterapi, dan hasilnya sangat baik. Pemblokiran glutamat secara signifikan meningkatkan efektivitas obat-obat anti kanker.

Berikut adalah beberapa efek samping dan gangguan spesifik yang berhubungan dengan MSG menurut Blaylock :

Kejang

Mual

Alergi

Ruam

Serangan asma

Sakit kepala

Mulut terasa kering

Hilang ingatan

Reaksi terhadap MSG dapat terjadi kapan saja, dari mulai segera setelah mengkonsumsi MSG sampai beberapa hari kemudian. Anak-anak lebih rentan terhadap efek negatifnya dibandingkan orang dewasa.

Bagaimana Menyikapinya?

Sebaiknya menghindari atau membatasi penggunaan MSG dalam makanan kita. Makanlah makanan dalam bentuknya yang paling alami. Bagaimanapun, tubuh kita tidak diciptakan untuk menyerap dan memanfaatkan zat sintetis buatan manusia. Makanan dari alam itu jauh lebih baik, lebih aman dan lebih sehat ! [mkn/m]

Jawaban dari Kontroversi Monosodium Glutamate (MSG)

Dalam kehidupan sehari-hari, Monosodium glutamate atau yang lebih sering disebut dengan MSG ditemukan oleh Dr. Kikunae Ikeda seorang ilmuwan asal Jepang pada tahun 1908, MSG banyak dipakai dalam makanan sebagai bahan penyedap masakan untuk merangsang selera makan. Penggunaan MSG dalam makanan biasanya dilakukan dalam jangka waktu pemakaian yang cukup lama. Total pemakaian MSG pada beberapa negara cukup tinggi, yaitu antara lain di Jepang yang mencapai 65.000 ton per tahun, Korea yang mencapai 30.000 ton per tahun, dan Amerika yang mencapai 26.000 ton per tahun.

Meski MSG mempunyai efek yang kontroversial terhadap kesehatan namun MSG beredar bebas dipasaran dan mudah sekali ditemukan. Dari berbagai macam penelitian yang umumnya dilakukan pada hewan percobaan dalam periode neonatal atau infant dengan pemberian MSG dosis tinggi melalui penyuntikan, telah ditemukan beberapa bukti bahwa MSG dapat menyebabkan nekrosis pada neuron hipotalamus, nukleus arkuata hipotalamus, kemandulan pada jantan dan betina, berkurangnya berat hipofisis, anterior, adrenal, tiroid, uterus, ovarium, dan testis, kerusakan fungsi reproduksi, dan berkurangnya jumlah anak (Sukawan, 2008).

Monosodium glutamat (MSG) adalah garam sodium “L glutamat acid” yang sering digunakan sebagai bahan penyedap masakan untuk merangsang selera. Asam glutamate merupakan asam bebas dari MSG adalah unsur pokok dari protein yang terdapat pada bermacam-macam sayuran daging, seafood, dan air susu ibu. Asam glutamate digolongkan pada asam amino non essensial karena tubuh manusia sendiri dapat menghasilkan asam glutamat. Asam glutamat terdiri dari 5 atom karbon dengan 2 gugus karboksil yang pada salah satu karbonnya berkaitan dengan NH2 yang menjadi ciri pada asam amino. Struktur kimia MSG sebenarnya tidak banyak berbeda dengan asam glutamate, hanya pada salah satu gugus karboksil yang mengandung hidrogen diganti dengan natrium. Gugus karboksil setelah diionisasi dapat mengaktifkan stimulasi rasa pada alat pengecap.

Metabolisme asam amino non essential termasuk didalamnya glutamat akan menyebar luas di dalam jaringan tubuh. Telah diketahui bahwa 57% dari asam amino yang diabsorpsi dikonversikan menjadi urea melalui hati, 6% menjadi plasma protein, 23% absorpsi asam amino melalui sirkulasi umum sebagai asam amino bebas, dan sisanya 14% belum diketahui dan diduga disimpan sementara di dalam hati sebagai protein hati/enzim (Sukawan, 2008). Sehingga untuk memperoleh data yang lebih akurat tentang efek toksisitas vitsin terhadap mencit, kami melakukan pembedahan mencit yang telah dilakukan perlakuan vitsin (MSG) dan menimbang organ hepar atau hati dan ginjalnya dan membandingkannya dengan berat tubuh mencit. Untuk prosentase terbesar berat hepar terdapat pada mencit kontrol atau dengan tanpa perlakuan, dan prosentase berat terkecil terdapat pada mencit dengan perlakuan 3 yakni pemberian vitsin dengan dosis 5 mg sebanyak 2 x sehari. Secara teori prosentase berat hepar terkecil seharusnya terdapat pada perlakuan 6, yakni dengan dosis vitsin terbesar 15 mg dengan pemberian 2 kali perhari. Perbedaan prosentase berat hepar ini menandakan perbedaan kerusakan pada sel-sel hepar mencit. Semakin banyak sel hepar yang rusak, semakin banyak rendah pula prosentase berat hepar terhadap berat tubuh mencit.

Kerusakan hepar pada mencit ini terbagi dalam tiga kategori, pada kategori pertama kerusakan hepar tidak terlalu kronis yakni menyebabkan hepar mencit menjadi bengkak, sehingga berat hepar menjadi bertambah. Kerusakan hepar ini terjadi pada perlakuan 1, 4 dan 6. sedangkan kerusakan kronis pada hepar mencit terjadi pada pelakuan 3 dan 5. yakni menyebabkan nekrosis atau menegerutnya inti sel hepar yang dapat diketahui dari turunnya prosentase berat hepar setelah perlakuan.

Jadi sangatlah jelas jika sebenarnya vitsin atau MSG merupakan bahan tambahan makanan yang mempunyai efek toksik pada tubuh kita. . .

Mitos Tentang MSG, Fakta Ilmiah MSG Aman

Mitos yang selama ini dianut oleh masyarakat awam dan sebagian klinisi atau dokter bahwa MSG berbahaya adalah salah. Ternyata MSG atau vetsin aman untuk digunakan atau dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Berbagai mitos tentang efek samping MSG tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat, sehingga seluruh badan pengawasan makanan dunia masih menggolongkan MSG sebagai bahan yang “Generally Regarded as Safe” (GRAS) dan tidak menentukan berapa batas asupan hariannya. Bila terjadi kontroversi tentang suatu masalah sebaiknya merujuk perbedaan pendapat tersebut tertuju pada penelitian ilmiah atau rekomendasi resmi institusi kesehatan internasional yang kredibel. Dalam dunia kedokteran modern pendapat seorang dokter ahli atau bahkan seorang profesorpun tidak akan berlaku selama bertentangan dengan fakta ilmiah atau rekomendasi resmi institusi kesehatan yang kredibel.

MSG atau vetsin atau sering disebut micin bukanlah bumbu masak yang sering dipakai sebagai penyedap.  Manfaatnya sebagai sumber rasa gurih, memang tidak terbantahkan. Namun bukan berartisecara terbuka diterima dan bebas dari isu-isu negatif terutama bila dikaitkan dengan kesehatan.

MSG yang kita kenal Mono Sdium Glutamat pertama kali di Jepang pada tahun 1909. Perusahaan pertama yang memproduksi secara massal adalah Ajinomoto. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan masakan dari masyarakat yang terus meninggkat, kemudian muncullah merk-merk dagang MSG lainnya.

MSG berawal dari penelitian Prof. Kikunae Ikeda (1908) yang menemukan bahwa Glutamat sumber rasa gurih (dalam bahasa jepang disebut umami) saat itu berhasil mengisolasi glutamat dari kaldu rumput laut dari jenis Kombu. Setahun kemudian Saburosuke Suzuki mengkomersialkan glutamat yang diisolasi oleh Ikeda.

 

 

 

Kandungan MSG

MSG tersusun atas 78% Glutamat, 12% Natrium dan 10% air. Kandungan glutamat yang tinggi itulah yang menyebabkan rasa gurih dalam segala macam masakan. Glutamat itu sendiri termasuk dalam kelompok asam amino non esensial penyusun protein yang terdap[at juga dalam bahan makanan lain seperti daging, susu, keju, ASI dan dalam tubuh kita pun mengandung glutamat. Di dalam tubuh, glutamat dari MSG dan dari bahan lainnyadapat dimetabolime dengan baik oleh tubuh dan digunakan sebagai sumber energi usus halus.

Senyawa ini adalah gabungan dari sodium/natrium (garam), asam amino glutamate dan air. Penegas cita rasa gurih ini dibuat melalui proses fermentasi tetes tebu oleh bakteri Brevi-bacterium lactofermentum yang menghasilkan asam glutamat. Kemudian, dilakukan penambahan garam sehingga mengkristal. Itu sebabnya, MSG sering ditemukan dalam bentuk kristal putih.

Di Indonesia penggunaan MSG terbuat dari tetes tebu dan singkong melalui proses fermentasi. Jika dirunut dari sejasrahnya, pada awalnya MSG diambil dari rumput laut, kemudian diubah menggunakan sumberl lain karena mengingat keterbatasan rumput laut ap[abila dip[akai terus menerus akan menyebabkan kerusakan ekosistem laut.

Fakta bahwa MSG aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek negatif bagi kesehatan sayangnya tidak diketahui oleh banyak masyarakat. Hal ini dikemukakan oleh sang Penemu MSG, pada dasarnya MSG diciptakan untuk membantu penyerapan nutrisi makanan secara maksimal oleh tubuh.

Badan-badan kesehatan dunia saat ini seperti JEFCA (FAO+WHO khusus bahan pangan), Komunitas Kesehatan Eropa, US FDA dan BPOM pun mengamini hal tersebut, karena menyatakan aspek keamanan nya dan memberikan batas asupan harian dalam penggunaan MSG adalah NOT SPECIFIED atau secukupnya. Tidak ada penetapan angka dalam penggunaanyadalam mengkonsumsi MSG. Di Amerika, pengunaan MSG dimasukan dalam kategori GRAS (Generally Recognized as Safe) sama seperti penggunaan garam, gula dan soda kue dalam pengguaanya.

Isu-isu negatif yang beredar tidak didasari oleh kajian-kajian ilmiah yang diakui kredibilitasnya. Ada beberapa penelitian memvonis MSG sebagai sumber penyakit ternyata menggunakan metode penelitian yang rancu dan tidak relevan dalam pengguaan MSG dalam kehidupan sehari-hari.

Penemuan terbaru pada tahun 2007, menunjukan bahwa lidah dan lambung memiliki reseptor glutamat. keberadaan resewptor ini membantu dalam proses pencernaan dalam memperlancar proses pencernaan itu.

Penggunaan MSG dalam makanan pun dapat mengurangi konsumsi garam dapur 20-40% dengantetap mempertahankan rasa enak dan lezat makanan tersebut. Hal ini dapat membantu pengurangan resiko hip[ertensi dan jantung dengan tetap memberikan rasa yang enak dalam masakan tersebut.

Hal yang menyebabkan hal negatif dalam penggunaan MSG karena ada beberapa orang memiliki alergi terhadap bahan-bahan tertentu, hal ini sama seperti alergi-alergi beberapa orang terhadap suatu hal tertentu tertentu (alergi seafood, alergi susu, alergi debu, alergi serbuk bunga, alergi bulu kucing-anjing dll). Oleh karena itu MSG mendapatkan cap negatif bagi masyarakat, padahal pada dasarnya MSG sangat membantu manusia dalam proses mencerna makanan secar maksimal. Perkembangan yang lain yang perlu di catat adalah rasa gurih (umami-jepang versi) telah diakui sebagai rasa dasar kelima selain manis, asin, asam dan pahit.

Mitos Salah Yang Terlanjur Dipercayai

Dalam laporannya pada FDA, FASEB mengemukakan fakta-fakta ilmiah sebagai berikut di bawah ini:

  • MSG bukan menyebabkan timbulnya Chinese Restaurant Syndrome
  • MSG dituduh sebagai biang keladi penyebab berbagai keluhan, yang disebut dengan istilah Chinese Restaurant Syndrome. Istilah ini berasal dari kejadian ketika seorang dokter di Amerika makan di restoran China, kemudian mengalami mual, pusing, dan muntah-muntah. Sindrom ini terjadi disinyalir lantaran makanan China mengandung banyak MSG. Laporan ini kemudian dimuat pada New England Journal of Medicine pada 1968.
  • Secara lengkap, sindrom atau kumpulan gejala itu terdiri atas: * Rasa terbakar di bagian belakang leher, lengan atas, dan dada * Rasa penuh di wajah * Nyeri dada * Sakit kepala * Mual * Berdebar-debar * Rasa kebas di belakang leher menjalar ke lengan dan punggung * Rasa kesemutan di wajah, pelipis, punggung bagian atas, leher, dan lengan * Mengantuk * Lemah
  • Berbagai penelitian ilmiah selanjutnya tidak menemukan adanya kaitan antara MSG dengan sindrom restoran China ini. Faktanya, mungkin ada sekelompok kecil orang yang bereaksi negatif terhadap MSG sehingga mengalami hal-hal tersebut. Gejala Chinese Restaurant Syndrome amat mirip dengan gejala serangan jantung.
  • Gejala Chineese Restaurant Syndrome ternyata juga mirip gejala reaksi simpanmg makanan atau gejala alergi. Ternyata alergi makanan dan hipersensitifitas makanan dapat menyebabkan gangguan semua organ tubuh termasuk gangguan pembuluh darah, otak, dan gangguan otot dan tulang.
  • Penderita penyakit jantung yang  mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG bisa terkecoh oleh  gejala ini. Mereka bisa menyangka telah terkena CRS padahal  sebenarnya sedang terkena serangan jantung. Peringatan bagi penderita penyakit jantung!  Namun belum jelas berapa persen dari penduduk yang mengalami hal ini. Selain itu, reaksi negatif MSG ini baru muncul bila orang tersebut makan sedikitnya 3 gram MSG tanpa makanan (dalam kondisi perut kosong). Keadaan ini bisa dikatakan sangat jarang terjadi, karena MSG biasanya dicampurkan ke dalam masakan. Selain itu, terdapat juga bahan makanan lain, terutama karbohidrat, yang dimakan bersamaan dengan MSG.
  • Apakah benar MSG menimbulkan sesak nafas pada penderita asma? Sesak nafas pada penderita asma setelah mengonsumsi MSG mungkin terjadi bila penyakit asmanya tidak terkontrol atau tidak diobati sebagaimana mestinya. Sampai saat ini belum ada penelitian yang menyebutkan MSG sebagai peneyebab alergi.
  • Sementara untuk dugaan antara konsumsi MSG dengan timbulnya lesi (luka) pada otak, munculnya penyakit Alzheimer, Huntington Disease, amyotopic lateral sclerosis, dan penyakit kronis lainnya, FDA telah mengambil tindakan. Badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat ini telah meminta FASEB untuk menelaah ulang semua penelitian tentang efek kesehatan MSG.
  • Laporan final FASEB diterbitkan dalam buku setebal 350 halaman untuk FDA pada tanggal 31 Juli 1995. Berdasarkan laporan ini, FDA berpendapat bahwa tidak ada bukti ilmiah apa pun yang membuktikan bahwa MSG atau glutamat menyebabkan lesi otak dan penyakit kronis.

Aman dikonsumsi

Tahun 1987, Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari Badan Pangan Dunia milik PBB serta WHO, menempatkan MSG dalam kategori bahan penyedap masakan yang aman dokonsumsi dan tidak berpengaruh pada kesehatan tubuh. Pernyataan ini diperkuat oleh European Communities Scientific Committee for foods pada tahun 1991. Selanjutnya, Badan Penagwas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada tahun 1995 menyatakan bahwa MSG termasuk sebagai bahan bumbu masakan, seperti halnya garam, merica, dan gula, sehingga aman bagi tubuh.

  • Untuk ibu hamil.
  • Bukti klinis memang belum ada. Namun FDA mengganggap MSG aman-aman saja buat ibu hamil. Belum terbukti ibu hamil yang mengonsumsi makanan mengandung MSG akan melahirkan bayi yang mengalami gangguan kesehatan. Penelitian baru dilakukan terhadap tikus hamil yang diberi MSG bubuk dalam dosis tinggi, 4 mg/hari, yang hasilnya menunjukkan MSG mampu menembus plasenta dan otak janin menyerap MSG dua kali lipat daripada otak induknya. Sepuluh hari setelah lahir, anak-anak tikus ini lebih rentan mengalami kejang dibanding dari induk yang tidak mengonsumsi MSG.  jadi mengingat apa pun yang masuk ke ibu akan diaslurkan oleh plasenta ke janin, sebaiknya ibu hamil mengurangi konsumsi MSG.
  • Untuk balita.
  • Sama halnya dengan ibu hamil, seberapa gram persisnya MSG dapat membahayakan kesehatan anak belum bias dibuktikan secara klinis. Namun, melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia 69/1999, Badan Pengawas Obat dan MAkanan Indonesia melarang tegas penambahan MSG pada makanan pendamping ASI maupun susu formula untuk menghindari risiko gangguan kesehatan yang mungkin timbul, karena pencernaan anak-anak yang belum kuat.
  • Batas ambang konsumsi.
  • Belum ada peraturan baku dunia, termasuk yang dikeluarkan oleh lembaga pangan dan kesehatan dunia (FAO dan WHO). Yang sudah bisa diketahui adalah titik optimal rasa gurih yang bisa dirasakan seseorang, yaitu maksimal 5 gram/hari. Dalam peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88, penggunaan MSG dibatasi secukupnya, tidak boleh berlebihan. Sayangnya, tidak dijelaskan secara detail berapa gram/hari yang dianjurkan.

Melihat fakta ilmiah dan rekomendasi berbagai institusi kesehatan int5ernasional tersebut sebaiknya  masyarakat tak perlu takut menggunakan MSG sebagai penyedap masakan. Berdasarkan penelitian dan pengujian, produk ini terbukti aman dikonsumsi. MSG tersusun dari sodium (natrium), glutamat, dan air yang merupakan unsur nutrisi bagi tubuh. ”Untuk membuat MSG harus memakai gula. Glutamat, naturium, air, 3 komponen pembuat MSG.  Secara sains, tidak ada bukti alergi karena glutamat. Glutamat ada banyak di tomat, keju, daging, atau ASI.

BPOM Indonesia juga menentukan batas penggunaan MSG secukupnya. Sesuai dengan fungsinya sebagai bumbu masak yang menyedapkan rasa. Batasan ini sama dengan penggunaan garam dan gula dalam masakan. Ada tiga tempat produksi Ajimonomoto yang diperlihatkan. Diawali dari Ajinex, di mana para tamu dapat melihat panel kontrol pengendali proses MSG. Dilanjutkan dengan area penerimaan tetes tebu yang merupakan bahan baku MSG. Lokasi berikutnya, MASAKO yang memperlihatkan bahwa bumbu ini dibuat dari daging ayam dan daging sapi asli, bukan hanya dari perasa daging. Tampak dari ruang kaca bagaimana daging ayam dan daging sapi diterima setelah sebelumnya melalui proses pengecekan kualitas oleh bagian QC. Selanjutnya daging sapi tersebut digiling dan daging ayam direbus kemudian dipisahkan dari tulang-tulangnya dan diolah menjadi bentuk butiran.