Jawaban dari Kontroversi Monosodium Glutamate (MSG)

Dalam kehidupan sehari-hari, Monosodium glutamate atau yang lebih sering disebut dengan MSG ditemukan oleh Dr. Kikunae Ikeda seorang ilmuwan asal Jepang pada tahun 1908, MSG banyak dipakai dalam makanan sebagai bahan penyedap masakan untuk merangsang selera makan. Penggunaan MSG dalam makanan biasanya dilakukan dalam jangka waktu pemakaian yang cukup lama. Total pemakaian MSG pada beberapa negara cukup tinggi, yaitu antara lain di Jepang yang mencapai 65.000 ton per tahun, Korea yang mencapai 30.000 ton per tahun, dan Amerika yang mencapai 26.000 ton per tahun.

Meski MSG mempunyai efek yang kontroversial terhadap kesehatan namun MSG beredar bebas dipasaran dan mudah sekali ditemukan. Dari berbagai macam penelitian yang umumnya dilakukan pada hewan percobaan dalam periode neonatal atau infant dengan pemberian MSG dosis tinggi melalui penyuntikan, telah ditemukan beberapa bukti bahwa MSG dapat menyebabkan nekrosis pada neuron hipotalamus, nukleus arkuata hipotalamus, kemandulan pada jantan dan betina, berkurangnya berat hipofisis, anterior, adrenal, tiroid, uterus, ovarium, dan testis, kerusakan fungsi reproduksi, dan berkurangnya jumlah anak (Sukawan, 2008).

Monosodium glutamat (MSG) adalah garam sodium “L glutamat acid” yang sering digunakan sebagai bahan penyedap masakan untuk merangsang selera. Asam glutamate merupakan asam bebas dari MSG adalah unsur pokok dari protein yang terdapat pada bermacam-macam sayuran daging, seafood, dan air susu ibu. Asam glutamate digolongkan pada asam amino non essensial karena tubuh manusia sendiri dapat menghasilkan asam glutamat. Asam glutamat terdiri dari 5 atom karbon dengan 2 gugus karboksil yang pada salah satu karbonnya berkaitan dengan NH2 yang menjadi ciri pada asam amino. Struktur kimia MSG sebenarnya tidak banyak berbeda dengan asam glutamate, hanya pada salah satu gugus karboksil yang mengandung hidrogen diganti dengan natrium. Gugus karboksil setelah diionisasi dapat mengaktifkan stimulasi rasa pada alat pengecap.

Metabolisme asam amino non essential termasuk didalamnya glutamat akan menyebar luas di dalam jaringan tubuh. Telah diketahui bahwa 57% dari asam amino yang diabsorpsi dikonversikan menjadi urea melalui hati, 6% menjadi plasma protein, 23% absorpsi asam amino melalui sirkulasi umum sebagai asam amino bebas, dan sisanya 14% belum diketahui dan diduga disimpan sementara di dalam hati sebagai protein hati/enzim (Sukawan, 2008). Sehingga untuk memperoleh data yang lebih akurat tentang efek toksisitas vitsin terhadap mencit, kami melakukan pembedahan mencit yang telah dilakukan perlakuan vitsin (MSG) dan menimbang organ hepar atau hati dan ginjalnya dan membandingkannya dengan berat tubuh mencit. Untuk prosentase terbesar berat hepar terdapat pada mencit kontrol atau dengan tanpa perlakuan, dan prosentase berat terkecil terdapat pada mencit dengan perlakuan 3 yakni pemberian vitsin dengan dosis 5 mg sebanyak 2 x sehari. Secara teori prosentase berat hepar terkecil seharusnya terdapat pada perlakuan 6, yakni dengan dosis vitsin terbesar 15 mg dengan pemberian 2 kali perhari. Perbedaan prosentase berat hepar ini menandakan perbedaan kerusakan pada sel-sel hepar mencit. Semakin banyak sel hepar yang rusak, semakin banyak rendah pula prosentase berat hepar terhadap berat tubuh mencit.

Kerusakan hepar pada mencit ini terbagi dalam tiga kategori, pada kategori pertama kerusakan hepar tidak terlalu kronis yakni menyebabkan hepar mencit menjadi bengkak, sehingga berat hepar menjadi bertambah. Kerusakan hepar ini terjadi pada perlakuan 1, 4 dan 6. sedangkan kerusakan kronis pada hepar mencit terjadi pada pelakuan 3 dan 5. yakni menyebabkan nekrosis atau menegerutnya inti sel hepar yang dapat diketahui dari turunnya prosentase berat hepar setelah perlakuan.

Jadi sangatlah jelas jika sebenarnya vitsin atau MSG merupakan bahan tambahan makanan yang mempunyai efek toksik pada tubuh kita. . .

Tinggalkan komentar